KETIK, SITUBONDO – Bupati Situbondo, Yusuf Rio Wahyu Prayogo, melontarkan kritik tajam terhadap pola pendidikan saat ini yang dinilai terlalu menekan anak sejak usia dini. Ia juga menegaskan, pendidikan seharusnya tidak hanya mengejar nilai akademik, tetapi membentuk karakter dan kebahagiaan anak, Sabtu 2 Mei 2026.

Pernyataan itu disampaikan dalam kegiatan Rabbhuwan bertema peringatan Hari Pendidikan Nasional 2026 yang digelar di Pendopo Rakyat Situbondo.

Di hadapan peserta Rabbhuwan, Mas Rio, panggilan akrab Bupati Situbondo, mengaku prihatin melihat realitas anak-anak sekolah dasar yang harus memikul beban belajar berlebihan mulai dari tugas sekolah hingga les tambahan.

“Saya sedih melihat anak-anak SD membawa buku sangat banyak. Mereka belum siap, tapi sudah dipaksa berjalan terlalu cepat,” ujar Mas Rio dengan nada tegas.

Menurutnya, kondisi tersebut bertolak belakang dengan kebutuhan perkembangan anak yang seharusnya lebih banyak diisi dengan aktivitas bermain sebagai bagian dari proses belajar alami.

Baca Juga:
Bupati Situbondo Dorong Sinergi dengan Golkar, Ekonomi Tumbuh 5,28 Persen

“Saya ingin anak-anak SD itu merdeka. Lebih banyak bermain. Justru dari situlah pendidikan yang sesungguhnya dimulai,” tegas Mas Rio.

Tak hanya itu yang disampaikan Mas Rio, tapi dia menekankan, kritiknya bukan bentuk penolakan terhadap pendidikan, melainkan dorongan untuk menghadirkan sistem yang lebih manusiawi dan proporsional. "Saya mengingatkan pentingnya membangun karakter anak sejak dini, termasuk melalui hal-hal sederhana di lingkungan keluarga," jelasnya.

Membersihkan rumah, membantu orang tua itu, kata Mas Rio, terlihat sepele, tapi dampaknya besar dan dapat membentuk tanggung jawab dan kemandirian anak.

"Nilai-nilai tersebut sebenarnya telah lama hidup dalam budaya masyarakat Situbondo, baik dalam tradisi Jawa maupun Madura, yang mengajarkan disiplin dan tanggung jawab sejak kecil yang diberikan orang tua-nya masing-masing," kata Rio Bupati Situbondo.

Baca Juga:
Peringatan Hardiknas, Bupati Situbondo Tegaskan Pendidikan Salah Satu Juru Penyelamat Bangsa

Tak hanya itu, Mas Rio juga mengajak para guru untuk melakukan refleksi mendalam terhadap metode pembelajaran yang diterapkan selama ini.

“Ayo kita bangun relasi yang kuat dengan anak didik. Pendidikan itu bukan sekadar angka di rapor, tapi bagaimana kita membentuk manusia seutuhnya,” pungkasnya.

Sementara itu, Anggota BIPPD Situbondo, Imam Nawawi, memperkuat pandangan tersebut dengan menegaskan pentingnya pendidikan yang bersifat holistik.

“Mendidik itu tidak cukup hanya aspek intelektual. Tapi, harus mencakup fisik, pikiran, dan spiritual. Ketiganya tidak bisa dipisahkan,” kata Imam Nawawi.

Imam juga mengatakan bahwa kecerdasan spiritual sering kali terpinggirkan dalam sistem pendidikan modern, padahal hal itu menjadi fondasi penting dalam membentuk karakter siswa.

Selain itu, Imam juga mengkritisi paradigma lama yang masih memandang guru hanya sebagai penyampai materi. “Guru itu bukan sekadar pengajar. Mereka adalah pendidik yang membentuk karakter. Kalau hanya transfer ilmu, itu konsep lama yang sudah tidak relevan,” tegas Imam.

Menurut Imam, keberhasilan pendidikan sangat ditentukan oleh metode pembelajaran dan kualitas guru dalam memahami keberagaman potensi siswa. “Tidak ada anak yang bodoh. Yang ada, metode pembelajarannya belum tepat,” katanya.

Keberhasilan sistem pendidikan, imbuh Imam, di Finlandia yang menjadikan guru sebagai pilar utama, melalui seleksi ketat dan dukungan kesejahteraan yang memadai membentuk pendidikan yang handal.

“Di Finlandia, kualitas guru adalah kunci. Mereka dipilih dengan sangat selektif dan didukung penuh,” jelas Imam.

Sebagai bentuk komitmen, Pemerintah Kabupaten Situbondo, kata Imam, akan terus berupaya meningkatkan kualitas pendidikan, salah satunya melalui program beasiswa bagi guru untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

"Dengan dorongan perubahan dari pemkab, Situbondo berupaya keluar dari pola lama pendidikan menuju sistem yang lebih berimbang, berkarakter, dan berpihak pada tumbuh kembang anak secara utuh," pungkas Imam Nawawi. (*)