KETIK, PACITAN – Hari-hari tuanya Misno (74), tukang rongsokan asal RT/RW 03/01, Dusun Bubakan, Desa Kembang, Kecamatan/Kabupaten Pacitan, diwarnai penderitaan.
Ayah empat anak itu hanya bisa pasrah menahan perih akibat penyakit batu ginjal yang diderita lebih dari lima tahun.
Keterbatasan biaya membuat Misno tak mampu melanjutkan pengobatan.
Misno tinggal bersama istrinya, Supiyah (72), di sebuah rumah sederhana berbahan kasibot yang jauh dari kata layak.
Tangis tertahan terlihat di wajah pasangan lansia tersebut.
Baca Juga:
Ini Rekap Perolehan Medali Kejurkab Pencak Silat Pacitan 2026, PSHT Raih 7 EmasSelama puluhan tahun, Misno mencari nafkah sebagai pengepul rongsokan.
Namun sakit yang kian parah memaksanya berhenti bekerja.
Kini, keluarga mereka bergantung pada menantu yang hanya bekerja serabutan dengan penghasilan pas-pasan.
“Kalau sakit bapak pas kumat, dia cuma bisa terbaring. Kata bapak nyerinya terasa dari pinggang, punggung, sampai perut. Saya cuman nangis,” tutur Supiyah saat ditemui Ketik.com di rumahnya, Minggu, 14 September 2025.
Baca Juga:
Kisah Guru Yasi yang Sukses Ajarkan Anak Tunarungu Pacitan Menari dengan MataBiaya Perjalanan Jadi Kendala
Dalam perjalanan pengobatannya, Misno sudah menjalani operasi pengangkatan batu ginjal di salah satu rumah sakit (RS) di Wonogiri pada 2020 lalu.
Keseluruhan biaya pengobatan telah ditanggung oleh asuransi kesehatan yang dibayarkan oleh anaknya.
Dokter menyarankan agar ia rutin kontrol, namun anjuran itu tak bisa dipenuhi.
"Sempat kami mencoba untuk kontrolnya di RS Pacitan agar tidak perlu biaya banyak. Tapi ternyata di Pacitan tidak menyanggupi," ucapnya.
Tiap kali berobat ke Wonogiri, Misno ditemani istrinya butuh sekitar Rp800 ribu untuk sewa mobil dan makan.
Tak seberapa memang, namun bagi Misno nilai tersebut sudah diluar kemampuannya.
"Sejak kontrol terakhir yang ke-8 kali. Sekitar tiga bulan lalu. Bapak berhenti berobat. Biaya perjalanan ke rumah sakit kami tidak mampu," jelasnya.
Bukan hanya Misno saja yang sakit. Istrinya, Supiyah, juga menderita darah tinggi.
Bahkan, anaknya juga sakit pada matanya hingga sulit untuk dibuka.
"Saya jadi kepikiran terus tiap malam, pasrah cuman bisa berdoa," ungkap Supiyah.
Kepala Dusun Bubakan, Nasikin, turut prihatin dengan kondisi warganya.
Ia menjelaskan, rumah lama keluarga Misno bahkan sudah dijual untuk melunasi utang anaknya.
Mereka tidak menuntut banyak, hanya ingin ada bantuan agar ia bisa melanjutkan pengobatan.
“Beliau sangat layak untuk dibantu. Hidupnya serba kekurangan. Rumahnya pun tidak layak huni. Semoga ada yang tergerak membantu,” kata Nasikin.(*)